Kolonialisasi di Maluku Tengah

1. Pendahuluan

Alasan kenapa rakyat Maluku Tengah melawan kolonial dalam tahun 1817 di beberkan dengan jelas dalam 3 dokumen yang ditulis dengan huruf latin. Selain itu gubernur yang dianggap bersalah dalam perlawanan tersebut juga menuliskan laporannya, yaitu Komisaris Engelhard serta Admiral Byuskes. Dijelaskan sebabnya bahwa ternyata karena mereka merebut pusat pemerintahan Hindia Belanda di Saparua, Papua. Para pengikut Pattimura mengeluarkan tuntutan untuk perbaikan-perbaikan di Maluku Tengah. Dan jika dipenuhi, maka perlawanan akan dihentikan.

Sejak VOC menguasai Maluku, timbul pemukiman baru yang disebut negeri, dan memiliki struktur sosial yang merupakan gabungan antara unsur budaya lama dengan unsur budaya baru yang dibawa VOC. Dalam sistem-sitem tersebut, merupakan unsur-unsur yang mengikat penduduk Ambon-Lease. Namun akhirnya ditemukan pula kepincangannya. Misalnya, ekspedisi Hongi. Ekspedisi ini dimaksudkan untuk mengawasi pulau-pulau Seram, Buru, Manipa, dll yang dilarang menghasilkan cengkeh.

Kepincangan lain adalah adanya korupsi. Korupsi menjalar diantara para pegawai pemerintahan Belanda. Selain itu ada Laverentie. Kebijakan ini berisikan bahwa penduduk diwajibkan untuk menyetorkan bahan banngunan untuk perbaikan kapal. Keresahan lain adalah digunakannya uang kertas dalam transaksi pembelian cengkeh, padahal untuk membeli barang lain digunakan uang logam. Selain itu, perekrutan penduduk untuk dijadikan militer di Jawa merupakan hal yang sangat meresahkan penduduk.

2. Jalannya Perang

Sejak awal Maret 1817, penduduk Maluku Tengah telah mengadakan perkumpulan-perkumpulan untuk membahas nerbagai masalah yang terjadi. Dan pada 14 Mei di P. Saparua, para pemuda memutuskan untuk menyerbu Benteng Duurstede dan mengangkat Thomas Matulesy sebagai pemimpin. Pada pagi hari 15 Mei dilancarkan serangan-serangan dan akhirnya benteng dapat dikuasai dan penghuninya Residen Van den Berg beserta keluarganya tewas, kecuali putranya yang berumur 5 tahun.

Belanda pun mengirimkan pasukannya untuk merebut benteng Duurstede kembali di bawah pimpinan Beetjes yang tiba di Saparua tanggal 20 Mei. Mereka disambut dengan perlawanan dari pasukan Pattimura yang sudah menunggu, sehingga pasukan Belanda pun kalah. Pasukan Pattimura berkonsentrasi untuk menyerbu Benteng Zeelandia di Pulau Haruku. Pemberitahuan-pemberitahuan pun sudah disebar di desa-desa mulau 30 Mei, karena 27 Mei pasukan sudah bersiap menyerbu.

Serangan pada 3 Mei ternyara gagal karena tembakan-tembakan yang sangat besar dari kapal-kapal Zwaluw dan Nassau. Pasukan di Haruku menhadapi pasukan yang lebih kuat, karena Gubernur Middelkoop mengirim sebuah ekspedisi dibawah pimpinan Kapitein Luitenant Groot. Pasukan ini langsung menyerang Desa Kabau dan Rohomony yang dilaporkan mnejadi pusat konsentrasi pasukan, tetapi sudah tidak ada pasukan karena dua desa tersebut telah terbakar.

Patroli Inggris dan Maria Rijgersbergen sekitar Pulau Haruku memaksakan para pemuda untuk menghentikan serangan-serangan. Mendengar Duurstede dikuasai, maka di Ambon, Belanda membentuki konsentrasi pasukan baru, sementara di Semenanjung Hitu, Pattimura mengangkat Ulupaha sebagai panglima di Hitu. Pasukan-pasukan dalam jumlah besar dipersiapkan. Karena banyaknya bantuan, Ulupaha mencoba menyerang benteng Amsterdam pada 27 Mei. Sekalipun tidak dapat menguasai benteng, tetapi Resident Burggraaf dapat dilumpuhkan. Dan akhirnya dia digantikan oleh Smit de Haart yang terkenal sebagai orang yang aktif. Dia mengadakan serangan-serangan besar ke benteng-benteng, seperti Kaitetu sehingga banyak kapitan-kapitan yang gugur. Belanda berusaha kembali menduduki Benteng Duurstede dibawah pimpinan Groot. Tetapi usaha tersebut gagal karena Pattimura telah menginstruksikan penduduk untuk membanngun benteng-benteng di pinggir pantai untuk menangkis serangan meriam kapal perang Belanda. Dan Groot pun berinisiatif untuk mengadakan perundingan dengan Pattimura.

3. Akhir Perang

Perlawanan-perlawanan terus dilangsunngkan oleh pihak Pattimura. Situasi ini mendorong pihak Belanda untuk mempunyai pasukan yang lebih besar. Bantuan pun didatangkan dari Batavia, dan dibawah pimpinan Laksamana Muda A. A. Buyskes, pasukan Ulupaha dapat dihancurkan sehingga mereka menyerah. Kemudian Hitu pun diduduki olehnya, karena merupakan jalan untuk mneyerang Haruku. Akhirnya Haruku juga jatuh karena persenjataan Belanda yang lebih unggul. Kekalahan-kekalahan akhirnya dialami pasukan Pattimura. Para kapitan pun banyak yang tertangkap karena taktik tipu muslihat Belanda sehingga perlawanan pun terhenti. Desember 1817, Kapitan Pattimura bersama 3 orang lainnya dihukum mati di Benteng Niuew Victoria di Ambon.

sumber:

Djoened. Marwati, Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonsesia IV. Jakarta: Balai Pustaka

download gratis Kolonialisasi di Maluku Tengah PPT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s