Khalifah Bani Umayyah

Bab 1

PEMBUKAAN

 A.    Latar Belakang

Sepeninggalnya Rasulullah, muslim di Madinah dan Makkah kehilangan sesosok figur pemimpin yang selalu diidam-idamkan. Umat Islam saat itu saling berebut untuk menempati posisi tersebut. Kemudian dibentuklah suatu masa Khulafaurrasyidin yang berartikan pemimpin pengganti Nabi Muhammad SAW. Tetapi inipun tak berjalan dengan lancar. Pergolakan dan pergolakan terjadi. Baik di umat muslim sendiri atau pun dari luar umat muslim yang segan dengan kepemimpinan Nabi Muhammad. Setelah Masa Khulafaurrasyidin, terdapatlah masa dimana suatu kaum (bani) yang kuatlah yang berkuasa. Dan pada makalah kali ini akan membahas mengenai Khalifah pada masa Bani Umayyah.

B.     Rumusan Masalah

  1. Bagaimana sejarah berdirinya Bani Umayyah?
  2. Bagaimana perkembangan Islam pada masa Khalifah Bani Umayyah?
  3. Bagaimana hasil kebudayaan Islam pada masa Khalifah Bani Umayyah?
  4. Bagaimana bisa Bani Umayyah pada akhirnya mengalami kemunduran?

Bab 2

PEMBAHASAN

A.    Sejarah

Bani Umayyah atau Kekhalifahan Umayyah adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah kurang lebih selam 90 tahun dari 661 M sampai 750 M dengan Damaskus sebagai pusat pemerintahannya. Nama dinasti ini dirujuk kepada Umayyah bin ‘Abd asy-Syams, kakek buyut dari khalifah pertama Bani Umayyah yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan. Jabatan raja menjadi pusaka yang diwariskan secara turun-temurun dengan sistem monarkhi (Yatim Badri, 2011:42)

Kekuasaan Dinasti Umayyah dimulai pada masa kekuasaan Muawiyah bin Abu Sufyan, yaitu setelah terbunuhnya Ali bin Abi Thalib (Khulafaur Rasyidin yang terakhir). Kemudian orang-orang Madinah membaiat Hasan bin Ali namun Hasan bin Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada masa itu sedang dilanda bermacam fitnah yang dimulai sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, pertempuran Shiffin, perang Jamal dan penghianatan dari orang-orang Khawarij dan Syi’ah. Namun Hasan bin Ali memberikan jabatan tersebut disertai dengan beberapa syarat atau lebih dikenal dengan perjanjian Madain yang isinya diantaranya adalah :

  1. Agar Muawiyah tidak menaruh dendam terhadap penduduk Irak
  2. Agar pajak tanah negeri Ahwaz diberikan kepada Hasan setiap tahun
  3. Muawiyah harus membayar Husain sebesar 2 juta dirham
  4. Pemilihan atau pengangkatan khalifah selanjutnya harus diserahkan kembali kepada musyawarah kaum muslimin

Dengan adanya perjanjian ini maka berakhirlah masa kekuasaan Khulafaur Rasyidin dan menandai masa berdirinya kekuasaan Dinasti Umayyah.

B.     Perkembangan Islam

Ibu kota negara dipindah kan oleh Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, tempat dia berkuasa sebagai gubernur dulunya. Pada masa Muawiyah, Tunisia dapat ditaklukkan, selain itu juga Kabul. Angkatan-angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Ada tiga hal yang menyebabkan Muawiyah terus berusaha merebut Byzantium, diantaranya adalah :

  1. Byzantium erupakan basis kekuatan agama Kristen Ortodoks, yang pengaruhnya dapat membahayakan Islam
  2. Orang-orang Byzantium sering mengadakan pemberontakan ke daerah-daerah Islam
  3. Byzantium termasuk wilayah yang memiliki kekuasaan yang melimpah.

Kekuasaan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh Abdul Al-Malik. Dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawariz, Ferghana, serta dapat menguasai Balukhistan, Sind, dan daerah Punjab sampai ke Maltan.

Ekspansi besar-besaran dilanjutkan di zaman Al-Walid bin Abdul Malik. Masa ketentraman Walid adalah masa ketentraman, kemakmuran, dan ketertiban. Pada masa ini tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, benua Eropa. Setelah Aljazair dan Maroko dapat ditundukkan, Thariq bin Ziyad, mereka menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko dengan Benua Eropa dan mendarat di suatu tempat yang sekarang disebut Gibraltar.

C.    Kebudayaan

Selain wilayah kekuasaan yang sangat luas, di masa Dinasti Umayyah ini kebudayaan juga mengalami perkembangan, antara lain seni sastra, seni rupa, seni suara, seni bangunan, seni ukir dan lain sebagainya. Pada masa ini telah banyak bangunan hasil rekayasa umat islam dengan mengambil pola Romawi, Persia dan Arab. Salah satu dari bangunan itu adalah Masjid Damaskus yang dibangun pada masa pemerintahan Walid bin abdul Malik dengan hiasan dinding dan ukiran yang sangat indah. Contoh lain adalah bangunan masjid di Cordova yang terbuat dari batu Pualam.

Dalam bidang ilmu pengetahuan, perkembangan tidak hanya meliputi ilmu pengetahuan agama saja, tetapi ilmu pengetahuan umum, seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti, filsafat, astronomi, geografi, sejarah, bahasa dan sebagainya. Kota yang menjadi pusat kajian ilmu pengetahuan antara lain, Damaskus, Kufah, Makkah, Madinah, Mesir, Cordova, Granada dan lain-lain, dengan masjid sebagai pusat pengajarannya.

Dinasti Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan, Muawiyah bin Abi Sufyan mendirikan dinas pos. Menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Spesialisasi jabatan Qadhi atau hakim yang berkembang menjadi profesi tersendiri. Abdul Malik bin Marwan mengubah mata uang Byzantium dan Persia dengan mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M yang memakai kata-kata dan tulisan Arab, kemudian melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Pada masa Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) banyak membangun panti-panti untuk orang cacat, jalan raya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah  (Kumaidi, 2009).

D.    Kemunduran

Faktor-faktor penyebab runtuhnya Dinasti Umayyah :

  1. Pergantian khalifah mengalami penyelewengan dari system musyawarah Islam diganti dengan system kerajaan.
  2. Latar belakang terbentuknya Dinasti Umayyah tidak lepas dari konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali.
  3. Adanya pertentangan antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang makin meruncing.
  4. Menyalahi perjanjian Madain antara Muawiyyah dan Hasan bin Ali.
  5. Pengangkatan putra mahkota lebih dari satu.
  6. Pemerintahan yang korup, boros dan bermewah-mewah dikalangan istana.
  7. Memecat dan mengganti orang-orang dalam jabatannya dengan orang-orang yang disukai saja padahal pengganti itu tidak ahli.
  8. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan agama sehingga menimbulkan pergolakan dari golongan agama.
  9. Munculnya kekuasan baru yang dipelopori oleh Al-Abbas ibn Abdul Munthalib kekuasaan Dinasti bani Abbasiyyah.

Bab 3

PENUTUP

A.    Simpulan

Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyyah yang menang diplomasi di Siffin dan juga sebagai akibat terbunuhnya Khalifah Ali ibn Abi Thalib. Namun tidak hanya itu, ada dasar lain yang menjadikan daulah Bani Umaayyah itu lahir. Yakni dukungan yang kuat dari rakyat Suriah dan dari keluarga Bani Umayyah sendiri. Mereka dengan kelompok bangsawan kaya makkah dari keturunan Bani Umayyah berada sepenuhnya di belakang Muawiyyah untuk mendukungnya. Dengan sumber kekuatan yang tiada habisnya baik itu kekuatan tenaga manusia ataupun kekayaan, dan juga negeri suriah yang terkenal makmur yang menyimpan sumber alam yang berlimpah tentunya sangat membantu Muawiyyah. Salah satu kemajuan yang paling menonjol pada masa pemerintahan dinasti Bani Umayyah adalah kemajuan dalam system militer.

B.     Daftar Pustaka

Kumaidi, dkk. 2009. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Akik Pusaka.

Yatim, Badri. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Rajawali Pers.

PPT SKI Bani Umayyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s