Perawatan dan Pemeliharaan Perahu

Tentunya suatu benda yang berharga pasti akan dipelihara dan dirawat sebaik-baiknya. Begitu pula dengan perahu, karena perahu merupakan benda penting dalam kehidupan masyarakat nelayan. Pemeliharaan dan perawatan adalah segenap pekerjaan yang dilakukan terhadap benda yangterbuat dari bahan kayu. Tindakan perawatan meliputi perbaikan, pengobatan, dan pembersihan. Kegiatan pemeliharaan dan perawatan perahu yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kegiatan yang dilakukan museum terhadap koleksi perahu dan para nelayan.

1. Pemeliharaan dan Perawatan Perahu di Museum

Kayu merupakan bahan yang mengandung selulosa C6H12O6, lignin C5H10O5 dan hidro karbon lainnya. Serangga sangat senang dengan kayu karena unsur selulosa ini. Ada beberapa penyebab kerusakan koleksi kayu terutama perahu kayu di antaranya:

Faktor biologis, biasanya disebabkan oleh rayap, kumbang, bubuk atau teter. Serangga ini membuat lubang dalam kayu. Faktor kimia, kerusakan utama pada kayu karena adanya sifat asam dan basa air. Kayu yang terkena garam (NaCl) terus-menerus dapat merusak jaringan kayu tersebut. Faktor fisis, dipengaruhi kelembaban udara, dan sinar matahari. Berbagai faktor kerusakan di atas, mendorong menentukan sikap dan metode yang tepat untuk merawat koleksi kayu. Penggunaan bahan konservasi dari alam atau tumbuhan yang mengandung pestisida sebebnarnya sudah ada dalam alam sekitar. Ada beberapa bahan nabati yang berfungsi aktif sebagai pestisida, yaitu tembakau, akar tuba, biji bengkuang, biji sirsak, biji srikaya, gedebog pisang, dan gambir.

Penggunaan kimia untuk bahan konservasi dan restorasi koleksi museum di Indonesia pernah diprakarsai oleh Gothe Institute Bandung. Awalnya kayu yang ada di museum diobservasi terlebih dahulu. Diidentifikasi mengenai jenis kayu, umur, zaman dari kayu tersebut, serta sudah dicat atau masih polos. Kayu-kayu itu perlu dipotret yang bertujuan membedakan keadaan sebelum, selama, dan sesudah dikonservasi atau restorasi. Injeksi atau suntukan pada koleksi kayu juga dibutuhkan. Penyuntikan bertujuan membunuh penyakit yang ada di dalam kayu. Ada fill up, yakni pengisian larutan natural glue pada lobang-lobang yang ada pada sebuah koleksi yang perlu mendapatkan perawatan. Rekonstruksi, yakni penyatuan kembali bagian koleksi yang sudah lepas. Retouching, pemberian warna kembali pada koleksi yang hilang atau luntur. Cleaning, pembersihan  yang bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa bahan yang tidak diperlukan. Coating, pemberian lapisan luar dari sebuah koleksi. Agar warna asli kayu koleksi tidak rusak. Dan yang terakhir adalah penempatan koleksi. Koleksi harus disimpan di ruang dengan kelembaban 50-60, suhu 200 C – 240 C serta cahaya UV tidak lebih dari 50 lux.

2. Pemeliharaan dan Perawatan Perahu di Masyarakat

Pemeliharaan dan perawatan perahu yang dilakukan oleh nelayan biasayanya meryupakan pengetahuan turun-temurun. Biasanya diperoleh dari pembicaraan dari mulut ke mulut di lingkungan mereka. Biasanya mereka merawat dan memelihara perahu di pinggir atau tepi pantai.

3. Pemeliharaan dan Perawatan Perahu Berdasar Bahan

  • Perahu dari Bahan Kayu

Keberadaan perahu kayu terbesar di daerah pesisir Pulau Jawa, baik utara maupun selatan. Pemeliharaan dan perawatan ringan maupun berat biasanya dilakukan oleh nelayan itu sendiri. Pemeliharaan ringan biasanya karena adanya kerusakannya berupa cat yang mengelupas, kayu penyangga layar yang rapuh, kayu papan peneduh yang berlobang, atau pun layar yang robek. Sedangkan untuk pemeliharaan dan perawatan berat biasanya dilakukan bila lambung kapal banyak yang bocor, jarak papan kayunya renggang sehingga banyak air yang masuk, serta adanya kayu gading yang rapuh.

Pemeliharaan dan perawatan perahu secara berat berupa pengeringan, penutupan lubang, serta pengecatan. Pengeringan yang dimaksud yakni perahu diangkat menuju daratan dan dikeringkan dengan sinar matahari. Tujuannya adalah agar kadar air dalam kayu berkurang. Setelah kering, pekerja memukul-mukulkan palu kayu untuk mengetahui bagian yang keropos.

Penutupan lubang biasanya berupa penambalan pada bagian yang berlobang. Hal ini disebut nyindik, yakni cara memaku papan dengan posisi miring. Yang terakhir adalah pengecatan. Pengecatan dimaksudkan agar kayu lebih tahan lama terhadap air. Cat yang digunakan adalah cat minyak yang berfungsi sebagai pelapis.

  • Perahu dari Bahan Fiber

Nelayan yang memiliki perahu fiber beranggapan bahwa perawatan dan pemeliharaan perahu fiber lebih mudah dibanding perahu kayu. Hal ini dikarenakan perahu fiber lebih ringan dibanding perahu kayu. Namun, ada kelemahannya pula, yakni bila perahu fiber sudah rusak parah dan badan perahunya retak maka sulit penanganannya dan mudah pecah apabila diterjang ombak besar. Bekas perahu fiber yang sudah rusak, tidak dapat dipakai lagi. Pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan pada perahu fiber ini biasanya pemeliharaan dan perawatan ringan, yakni retak pada ujung kapal, kayu cadik yang sudah agak rusak, serta cat yang mengelupas. Dan apabila perahunya berlobang, maka cukup ditambal dengan campuran fiber.

  • Perahu dari Bahan Logam

Menurut penelusuran peneliti, perahu jenis logam ini  ada di daerah Wedung Demak yang berbatasan dengan Jepara. Logam yang dimaksud adalah plat drum oli yang telah disusun sedemikian rupa sehingga membentuk perahu. Pemeliharaan dan perawatan perahu logam juga ada kelemahannya, yakni bahan baku yang cukup sulit.

sumber :

Santosa, Budi, dkk. 2007. Perahu Tradisional Jawa Tengah. Semarang: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah

Perahu Tradisional pdf

PPT Perahu Tradisional Jawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s