Wawancara Sejarah Lisan Daerah Pantura 1966-1990

 

 

 

 

SEJARAH LISAN

PELAKSANAAN KEBIJAKAN JALUR PANTURA DI KABUPATEN REMBANG TAHUN 1966-1990

Disusun guna memenuhi tugas akhir mata kuliah SEJARAH LISAN

Dosen Pengampu        : Bapak Shokheh


oleh

Nama              : RIZKA PUTRI WIJAYA

NIM                : 3101409080

Prodi               : Pendidikan Sejarah

Rombel           : 02

JURUSAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2012

A.    Judul

“Pelaksanaan Kebijakan Jalur Pantura di Kabupaten Rembang tahun 1966-1990”

B.     Latar Belakang

Jalur Pantura, tentu kita sudah tidak asing mendengar perkataan tersebut. Ya…. karena jalur ini merupakan jalur lintas utama yang menghubungkan provinsi-provinsi di Pulau Jawa. Jalur ini dulunya bernama Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels. Mengapa demikian? Karena jalan ini dibangun pada masa pemerintahan Daendels. Saat itu dialah yang menjabat sebagai gubernur jenderal di kawasan Hindia Belanda. tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa. Serta untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.

Polisi lalu lintas merupakan salah satu contoh aktivitas yang menggunakan jalan raya sebagai tempat pelaksanaan tugasnya. Polisi lalu lintas bukanlah pekerjaan yang bisa dianggap remeh. Para calon harus melalui pendidikan terlebih dahulu, yang bisa dikatakan setara dengan militer, sehingga mereka memiliki fisik yang prima dan pemikiran yang luas. Polisi lalu lintas merupakan salah satu bagian dari kepolisian. Mereka ditempatkan khusus di jalan untuk mengawasi keadaan di jalan tersebut. Karena tidak setiap perjalanan mereka berjalan mulus. Pasti ada saja masalah yang muncul selama di perjalanan, entah itu kecelakaan, pemalakan preman, ulah bajing loncat, dan resiko-resiko berat lainnya.

Jalur ini merupakan sarana transportasi yang dilewati kendaraan cukup banyak. Intensitas kendaraan di wilayah ini juga cukup tinggi. Untuk itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pelaksanaan Kebijakan Jalur Pantura di Kabupaten Rembang tahun 1966-1990”

C.    Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan diteliti:

  1. Bagaimana pelaksanaan kebijakan di jalur pantura yang dilakukan oleh pihak polisi lalu lintas di daerah Kabupaten Rembang tahun 1966-1990?

D.    Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan kebijakan di jalur pantura yang dilakukan oleh pihak polisi lalu lintas di daerah Kabupaten Rembang tahun 1966-1990.

E.     Manfaat

Manfaat praktis

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan salah satu referensi bagi peneliti yang akan meneliti mengenai jalan raya Pantura.

Manfaat teoretis

Diharapkan dapat membantu pemerintah untuk mengetahui keadaan-keadaan masyarakatnya pada masa itu untuk perbaikan ke depannya.

F.     Tinjauan Pustaka

Toer, Pramudya Ananta. 2005. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta: Lentera Dipantara.

G.    Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian historis yaitu suatu metode penelitian yang khusus digunakan dalam penelitian sejarah dengan melalui tahapan tertentu. Tahap pertama berupa heuristik atau mencari dan mengumpulkan. Di sini peneliti mencari data-data yang dapat atau berhubungan dengan informasi seputar penerapan kebijakan jalur pantura tahun 1966-1990 di daerah Rembang.

Tahap kedua berupa verifikasi, yakni mengkritik data-data yang sudah ditemukan dengan sumber-sumber ataupun hal yang sudah ada sebelumnya. Setelah dikritik dan data tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, maka data tersebut akan berubah menjadi sumber.

Setelah melalui tahapan kritik sumber, kemudian dilakukan interpretasi atau penafsiran terhadap fakta sejarah yang diperoleh. Tahapan ini menuntut kehati-hatian dan integritas peneniti untuk menghindari interpretasi yang subjektif terhadap fakta yang satu dengan fakta yang lainnya, agar ditemukan kesimpulan atau gambaran sejarah yang ilmiah. Historiografi atau penulisan sejarah merupakan tahapan akhir dariseluruh rangkaian dari metode historis. Tahapan heuristik, kritik sumber,serta interpretasi, kemudian dielaborasi sehingga menghasilkan sebuah historiografi.

H.    Metode Penentuan Informan

Skop spasial

Memilih Kabupaten Rembang bukanlah hal yang main-main. Kabupaten Rembang dipilih karena kabupaten ini tepat berada pada lintasan Jalur Pantura yang selama ini kita kenal, atau dulunya bernama Jalan Daendels atau Jalan Raya Pos. Selain itu, kabupaten Rembang merupakan daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, jadi penulis juga berkeinginan untuk membandingkan mengenai kondisi-kondisi di sekitar jalan raya yang berada di perbatasan setelah dibangunnya jalan raya tersebut.

Skop temporal

Peneliti membatasi penelitian ini pada angka tahun 1966-1990. Memilih angka tahun 1966 karena pada masa itu merupakan masa Orde Baru, dan yang kita ketahuia bahwa pada masa itu, terjadi pembangunan saran dan prasarana seperti yang telah dijanjikan  oleh pemerintah. Sehingga dapat dimungkinkan bahwa pada tahun tersebut juga terjadi pembangunan jalan raya, walaupun pada masa kolonial juga telah kita tahu bahwa jalan tersebut telah dibangun. Dan diambil tahun 1966 adalah untuk mengetahui perkembangan yang ada. Di akhiri tahun 1990 karena itu merupakan masa akhir erde baru dan banyak sekali terjadi aksi-aksi masyarakat yang membuat tidak stabilnya pemerintahan. Selain itu, terjadi juga krisis moneter yang membuat perekonomian Indonesia menjadi terganggu. Jadi ada kemungkinan bahwa pembangunan pada masa itu juga terganggu.

Teknik pemilihan informan

Informan yang dipilih dalam wawancara untuk penelitian ini merupakan informan yang berkompeten, bewawasan luas, dan juga berhubungan langsung dengan topik penelitian yaitu jalur pantura. Dalam penelitian ini mengambil polisi lalu lintas untuk mengetahui kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh pihak kepolisian lalu lintas dalam mengatur jalannya lalu lintas jalan raya di Kabupaten Rembang pada tahun 1966-1990. Peneliti menemukan 2 orang informan yang dapat diwawancarai. Yang pertama bekerja sebagai pegawai Dinas Perhubungan dan yang satu dulunya bekerja sebagai polisi lalu lintas. Mengingat bahwa peneliti mengambil tahun penelitian sekitar 1966-1990, maka peneliti memilih informan yang kedua untuk diwawancarai. Karena mengingat bahwa umur informan kedua ini sudah mencapai 70 tahun, dan pengalaman kerjanya dari tahun 1966 sampai 1993. Sedangkan pada informan yang pertama masih muda, berumur sekitar 53 tahun, jadi pengalaman kerjanya masih belum luas dan jangkauan kinerjanya tidak memenuhi syarat penelitian, yakni minimal bekerja pada tahun 1966 sesuai dengan judul yang peneliti pilih.

Instrumen wawancara

Inti pertanyaan yang peneliti ajukan kepada informan

ü  Pengalaman kerja dari informan

ü  Pelaksanaan kebijakan SIM sekitar tahun 1966-1990

ü  Berbagai jenis pelanggaran yang terjadi di jalan raya sekitar tahun 1966-1980

ü  Hukuman terhadap setiap pelanggaran lalu lintas

ü  Berbagai jenis angkutan yang melewati jalan raya pantura sekiar tahun 1966-1990

ü  Macam-macam tugas yang harus dilaksanakan polisi lalu lintas sekitar tahun 1966-1990

ü  Kondisi jalan di daerah Rembang sekitar tahun 1966-1990

ü  Ketersediaan bahan bakar untuk kendaraan bermotor

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini,

nama                : Mbah Samian

pekerjaan       : Pensiunan polisi lalu lintas

umur                : ± 70 tahun

alamat             : Desa Gegunung Kulon, Kec. Rembang Kab. Rembang

menyatakan bahwa mahasiswa di bawah ini,

nama                : Rizka Putri Wijaya

pekerjaan       : Mahasiswi

umur                : 21 tahun

alamat              : Desa Pantiharjo RT. 1 RW. 1 Kec. Kaliori Kab. Rembang 59252

telah melakukan wawancara kepada saya yang digunakan sebagai wacana atau sumber informasi dalam penelitian yang akan dilakukan oleh mahasiswa tersebut.

Surat pernyataan ini dibuat guna dijadikan bukti otentik telah dilakukannya wawancara.

Rembang, 5 Januari 2012

Mengetahui,

Mbah Samian

Wawancara 1

Identitas informan

Nama               : Mbah Samian

Umur               : ± 70 tahun

Pekerjaan       : Pensiunan Polisi Lalu Lintas

Alamat             : Desa Gegunung Kulon, Kec. Rembang Kab. Rembang

No. Telp           : –

Identitas pewawancara

Nama               : Rizka Putri Wijaya

Umur               : 21 tahun

Pekerjaan       : Mahasiswi

Alamat             : Desa Pantiharjo RT. 1 RW. 1 Kec. Kaliori Kab. Rembang 59252

No. Telp         : –

  • Tempat wawancara     : Kediaman (rumah) Mbah Samian
  • Waktu wawancara      : Sabtu, 19 November 2011 pukul 16.00 – selesai

Pewawancara  : Sebelumnya bisa tolong dijelaskan terlebih dahulu pekerjaan Bapak itu seperti apa?

Informan         : Jadi, pertamanya saya tugas di kepolisian itu selama 27 tahun di lalu lintas. Selama 27 tahun di lalu lintas dari bulan November ’66 sampai ’93 Mei. Itu… 27 tahun itu di lalu lintas, sehingga tugas pada waktu itu di bidang lalu lintas namanya menangani arus lalu lintas itu sangat sangat ya apa namanya itu sangat sangat e…. ringan sehingga seperti orang jalan-jalan itu saja. Soalnya saya berdiri di jalan itu ya 1 jam itu belum tentu ada 1 kendaraan lewat. Itu tahun ’66.

Pewawancara  : Oh (nada kaget), jadi tahun ’66 masih jarang kendaraan yang lewat?

Informan         : Ya… tahun ’66 itu ya tahun ’66 itu keadaan kendaraan seperti itu. Di Kabupaten Rembang itu sepede motor-sepeda motor itu hanya ada 6. Kragan 1, Paloh 1, Rembang 2, lalu apa itu Lasem (sambil menghitung jari tangan) itu 2. Ya…. sepeda motor itu hanya bentuk  itu DKW, ada HD itu ya sepeda motor zaman dulu. Vespa belum ada itu, belum ada.

Pewawancara  : (tertawa kecil). Lalu kendaraan yang mungkin mayoritas lewat jalan Rembang ini kendaraan apa Pak?

Informan         :  Kendaraannya mayoritas lewat Rembang itu utamanya bus. Bus-bus itu hanya ini hanya Indonesia.

Pewawancara  : (menyela) Oh… Indonesia itu sudah ada?

Informan         : Indonesia sejak dulu sudah ada, jadi Indonesia tapi Indonesia Lasem dulu.

Pewawancara  : Oh… Indonesia dulunya Lasem.

Informan         : He em. Indonesia Lasem, jadi utamanya yang lewat itu adalah bus. Dulu terdiri dari Indonesia, Kaloka, Mars Adam, he em (sambil mengingat-ingat) Patmo dari Kudus itu.

Pewawancara  : Oh Patmo itu Kudus, Oh…..

Informan         : He em. Patmo dari Kudus itu, ini ini pada pada waktu itu. Ini, ini saya bicara awal dari ’66 ya…

Pewawancara  : Iya… awal dari ’66.

Informan         : Lha pada waktu itu angkutan utama yang sering lewat itu hanyalah truk angkutan kayu jati. Truk angkutan kayu jati truk dari apa itu dari Jepara. He em. Terus angkutan yang secara nasional itu PT Hasil Lasem.

Pewawancara  : Jadi berdirinya sudah lama ya Pak????

Informan         : Oh sudah lama. PT Hasil Lasem, Kalimas ya, terus ada apa itu (mengingat-ingat) em…. Kalimas itu Surabaya, terus ada ini Jujur itu Semarang, PT Jujur itu terus apa itu TNB, TNB-PHB itu dari dari Jakarta. Jadi, suasana jalan, suasana jalan itu sempit. Kanan kiri ini pohon asem gedhe…

Pewawancara  : Jadi belum lebar seperti sekarang ya Pak. Kira-kira itu sempitnya berapa meter?

Informan         : Waktu itu… waktu itu baru sekitar 6 meteran.

Pewawancara  : Kondisi jalannya juga masih batu-batu?

Informan         : Kondisi jalan yang berbentuk aspal baru sebelah barat jembatan itu (menunjuk arah jembatan Karanggeneng) sampai Kabongan itu, lainnya ya aspal, saya datang di sini ya sudah agak anu ya lubang-lubang (pewawancara tertawa kecil) banyak tanahnya gitu, lah…. adapun penerangan listrik itu hanya itu di Jembatan Karanggeneng itu bohlam, bohlam itu yang bening kira-kira itu itu lamou jalan ya itu (tersenyum) bohlam lampu bening itu dipasang di sebelah barat jembatan itu. Terus dipasang diKabongan terusan antara jembatan dengan Kabongan itu kira-kira hanya berapa berapa pasangan lampu yang kira-kira ada 6, ya ndak ada kira-kira ada 4 mungkin. Soalnya dari alun-alun sampai ke Kabongan itu gelap, ndak ada lampu. Begitu juga dari jembatan sampai kesana (menunjuk arah barat) itu ndak ada itu.

Pewawancara  : Berarti apa itu e…. di daerah jalan raya itu rumahnya masih jarang ya Pak?

Informan         : Ya… jarang-jarang sekali. Apalagi yang namanya warung-warung itu. Nah, di waktu tugas, tugas lalu lintas itu karena akan menangani pelanggaran-pelanggaran itu jarang sekali, jarang sekali. Sehingga lalu lintas itu menangani pelanggaran itu lampu becak dengan lampu sepeda. Jadi, pada waktu itu, pada waktu itu sepeda waku itu,

Pewawancara  : (menyela) Sepeda onthel itu Pak?

Informan         : Ya, sepeda, sepeda yang berjalan di waktu malam itu jam 6 sampai jam 6 pagi itu harus menyalakan pirto. Harus dinyalakan, kalau tidak dinyalakan itu sopir itu sopir itu lalu diajukan ke pengadilan. Di denda, begitu juga becak, pada waktu jam 18.00 sampai jam 6 itu itu harus diberi ting. Digantung-gantungkan di bawah gitu (pewawancara mengangguk-angguk sok tahu). Ting itu seperti uplik itu di dalam kaca. Jadi tugas pelanggaran pelanggaran lalu lintas itu utamanya ada pada itu e…. ada pada….

Pewawancara  : (mencoba membantu) Sepeda dan becak. Kalo andong Pak?

Informan         : Di waktu itu dokar masih jarang-jarang….

Pewawancara  : Oh…. masih jarang-jarang ada…

Informan         : Bukan, masih jarang-jarang malam tho (meyakinkan pewawancara) itu yang disarankan memakai ting itu cikar. Dulu cikarnya itu rodanya masih besi, belum ban. Jadi, masih anu sekali lah. Jadi tugas polisi di bagian lalu lintas masih itu….

Pewawancara  : Masih ringan ya Pak ya…

Informan         : Ya…. masih sangat-sangat ringan. Apalagi yang tugas di administrasinya itu ya, soalnya jarang-jarang. Kecelakaan itu sebulan belum tentu ada satu. Jadi tugasnya hanya merupakan preventif-preventif. Waktu itu juga sudah dibekali dengan tugas preventif itu. Tugas preventif itu terdiri dari penjagaan. Penjagaan dimana tempat-tempat yang rawan itu. Lalu pengaturan, termasuk tugas preventif. Yang kedua adalah tugas…. yaitu pembinaan, education nah education nya itu. Pembinaannya kepada siapa? Pembinaannya kepada ini sepeda-sepeda itu selain sopir, itu dibina. (mempergakan gaya berbicara saat membina) Pak… sepedanya diberi lampu. Jadi membina terhadap ini….

Pewawancara  : (meneruskan) yang memakai jalan ini ya Pak.

Informan         : Iya, iya.

Pewawancara  : Terus Pak, kalo sekarang kan ada yang namanya SIM, apakah yang kayak dulu sopir-sopir juga ada surat izin mengemudinya?

Informan         : Ya…. pada waktu itu (mengingat-ingat) pada waktu sekitar ’66, ’67, ’68, ’69 itu anu untuk SIM itu hanya hanya truk saja dan mobil-mobil sedan itu pada waktu itu pengemudi-pengemudi untuk mendapatkan SIM  harus datang ke Pati.

Pewawancara  : Pati??????

Informan         : Ya…. harus datang ke Pati. Bentuknya… bentuknya SIM masih berbentuk buku seperti notes ya seperti notes (berusaha meyakinkan pewawancara). Jadi yang apa itu e…. merupakan suatu SIM nya itu ya seperti itu ya notes itu dicari di Pati. Karena pelaksanaan SIM dan STNK… pelaksanaan SIM dan STNK (berusaha menegaskan) dilaksanakan di tingkat kabupaten baru tahun ’80.

Pewawancara  : Jadi sebelum itu masih di tingkat karesidenan ya Pak?

Informan         : Pati… Pati karesidenan. Jadi pelaksanaan penanganan SIM dan STNK pada waktu itu tahun ’80 maka baik STNK maupun SIM itu para apa itu orang yang membutuhkan itu langsung ke Pati. Bagitu juga STNK itu harus dipakai hanya pada waktu itu pada waktu ’66, ’67, ’69 sampai tahun ’70 STNK itu belum jadi satu dengan Jasa Raharja dengan pajak. Jadi STNK hanya bentuk STNK Surat Tanda Nomor Kendaraan itu lalu pajaknya ke kantor pajak lha pengemudi diwajibkan membawa giro, giro pajaknya itu. Begitu juga Jasa Raharja nya itu itu yo ke Jasa Raharja. Nah, maka dari itu kalau lalu lintas tanya kepada pengemudi contohnya kendaraan mobil ditanyakan (sambil menirukan gaya saat sedang berjaga) STNK mana? SIM nya mana? Pajaknya ditunjukkan gironya itu, Jasa Raharjanya mana? Ya ditunjukkan apa itu merupakan suatu gironya itu ya tandanya itu. Setelah tahun ’70 (mengingat-ingat) ’70 eh….. ’76 ya itu yang semula STNK itu dan SIM sendiri-sendiri 3 macam itu lalu dibentuk 1 menjadi SAMSAT. Kepanjangan dari Sistem Manunggal eh… Sistem Administrasi Manunggal di Bawah Satu Atap. Lha timbulnya kantor itu lalu STNK sudah termasuk pajaknya termasuk Jasa Raharja tapi penangannya sekarang masih 3 instansi itu tetapi sudah dijadikan 1 atap. Itu tahun ’76 itu. Nah, seperti BPKB Buku Pemilik Kendaraan Bermotor merupakan suatu sertifikat kepemilikan itu baru tahun ’68. Dulunya itu dulunya itu BPKB kan sekarang zamannya saja polisi sekarang saja tidak boleh menanyakan BPKB. Lha sertifikat pemilikan harus disimpan itu. Lha dulu itu belum belum punya itu, setelah beli motor seumpamanya itu ya harus ngurus STNK tadi itu. BPKB itu adalah munculnya tahun ’68.

Pewawancara  : Pada tahun ’67-’68 itu apakah SIM ada nama lain itu Pak?

Informan         : Ya????? (belum mengerti maksud pertanyaan pewawancara)

Pewawancara  : Tahun ’66 itu untuk SIM nya itu biasanya kan pakainya itu namanya apakah sama atau berbeda?

Informan         : Ya…. ya…. Jadi sejarah dari SIM itu pada waktu ’66 itu masih bentuk buku, setelahnya tahun… (menerawang atap rumah) setelahnya tahun ’75 an itu berbentuk seperti KTP seperti KTP hanya hanya photonya itu masih ditempel. Jadi kalau mendaftarkan SIM itu dengan membawa pas photo itu. Setelahnya tahun e… sekitar ’80 an itu photo dari SIM itu dibentuk polaroid, jadi yang memoto itu dari pihak lalu lintas. Soalnya photo polaoid itu kan bisa sekali jadi itu. Lha sekitar sekitar (mengingat-ingat) sekitar tahun ’87 an mungkin itu baru komputerisasi. Jadi pada waktu itu sistem komputer masih baru sekali. Dan SIM itu betul-betul ujian.

Pewawancara  : Jadi nggak ada bayar seperti istilanya sekarang ya?

Informan         : Nggak, nggak ada. Jadi SIM itu betul-betul daftar lalu ujian tertulis setelanya ujian tertulis ujian praktek. Yang tertulis kalau tidak lulus mengulang, lulus ujian tertulis baru uian praktek, ujian praktek lulus baru mendapatkan suruh tanda tangan di blanko itu. Lha apabila ujian praktek itu belum lulus itu mengulang?

Pewawancara  : Mengulangnya itu dari awal atau?????

Informan         : Ya… mengulangnya dari prakteknya saja. Jadi sistemnya itu, Jadi istilahnya merupakan masalah ini masalah uang itu…

Pewawancara  : (melanjutkan) belum ada.

Informan         : Nggak ada sama sekali. Lha waktu ’66, ’67, ’69 itu hubungan polisi lalu lintas dengan pengemudi dan sebaliknya itu apa itu yang sering lewat kenal baik itu apabila diperiksa ditunjukkan surat-suratnya itu memberi rokok. Bentuk uang itu belum belum ada itu. Yang namanya pelanggaran itu dulu yang namanya pelanggaran itu dulu polisi mendapat uang ganti pelanggaran itu belum belum ada.

Pewawancara  : Jujurlah Pak ya istilahnya.

Informan         : Iya…. iya…. Nah ini masalah SIM dan STNK. Begitu juga tindak pelakasanaan SIM itu tahun ’80 an baru dilaksanakan di kabupaten. Jadi bentuknya SIM itu ada sekitar tadi yaitu notes, kayak KTP namun photonya di tempel, sekitar ‘87an baru komputer.

Pewawancara  : Tadi kan Bapak menceritakan sekitar tahun ’66 sampai ’69 itu yang lewat itu masih sekitar truk sama sedan-sedan itu.

Informan         : Iya iya… hanya sedan saja itu jarang ya hanya truk dan jeep. Jeep itu berapa itu….

Pewawancara  : Lalu yang memiliki sedan itu orang yang kayak gimana sich Pak yang sudah punya kendaraan?

Informan         : Jadi pada waktu itu orang-orang yang sudah mempunyai sedan itu orang yang ekonominya tinggi, itu biasanya ya memakai sopir lha sopirnya itu ya cari SIM nya itu ya ke Pati. Nah… setelahnya setelahnya tahun ’69 baru muncul Honda baru. Tahun ’69 itu muncul Honda berturut-turut ’69 ’70 itu ada Honda, Honda Astra itu. Munculnya Honda dibarengi kol pick-up. Jadi kol brondol itu, itu mulai jalan itu mulai kelihatan terisi itu mulai tahun ’69. Baik kol brondol maupun Honda itu tapi ya masih jarang-jarang. Soalnya tahun ’66 ’67 ’68 sampai ’72 an itu lalu lintas ya ngonthel… Soalnya di kantor polisi itu kendaraan hanya ada Jeepnya komandan, truknya perintis dan sepeda motor sama sekali belum ada. Lalu bagaimana kalau penanganan kecelakaan itu e….? Ya…. setelah dapat laporan ya nunut truk kalau ada truk lewat. Kalau truknya lama ya sudah meninggal duluan (sambil tertawa bergurau) jadi begitulah bentuk apa itu penanganan. Setelahnya ini tadi mulai ’69 ’70 sampai dengan menginjak tahun ’79 ‘80an presiden membuat keputusan ya Kepres tentang jalan. Nah presiden membuat kepres tentang jalan. Kepresnya itu isinya adalah tentang jalan ya… Jalan itu dibagi menjadi 3 kelas.

  1. Yang pertama adalah untuk Rembang ya ini, jalan arteri. Jalan arteri itu dari Kaliori sampai Sarang. Ini kendaraan yang lewat ini adalah kendaraan kelas 2. Penangangan jalan itu ada pada apa itu tingkat satu, PUJT nah.
  2. Yang kedua jalan kolektor, kolektor itu untuk kelas 3. Contohnya Rembang – Blora.
  3. Yang ketiga adalah jalan kabupaten. Ini kelas 4, antara lain ya antar kecamatan itu. Itu tentang jalan itu penanganan-penanganan tentang jalan itu sudah disebutkan itu.
  4. Mestinya ada 4 itu karena di Rembang nggak ada. Yang 4 jalan tol. Sebutan jalan tol itu adalah jalan bebas hambatan. Mengapa dinamakan tol???? Nah uang untuk mbayar lewat itu namanya tol, makanya dinamakan jalan tol.

Tahun ’79 itu ada Kepres tentang jalan itu sehingga baru mulai baru mulai yang awalnya dari PUJT, tapi belum apa namanya itu belum sampai pada pelebaran-pelebaran itu. Jadi pohon-pohon yang ada di sekitar jalan itu ditebang. Jadi perubahan jalan kalau demikian itu perubahan jalan itu sekitar ’82 ’83 an. Lha wong sampai yang namanya marka jalan dan zebra cross itu dari lalu lintas dulu, kerja sama dengan apa itu kerjas sama dengan sekolah-sekolahan. Soalnya di waktu itu saya menangani melatih apa itu PKS itu selama 22 tahun itu jadi setiap sekolah di setiap jalan arteri ini (sambil menunjuk jalan depan rumahnya) saya datangi untuk menyediakan cat lalu tenaga dari saya ambilkan dari polisi, lalu kita buat itu ada zebra cross ada marka ini sangat sangat anu itu.

Pewawancara  : Lalu untuk kendaraan kelas 2, kendaraan kelas 3 itu pembedaannya menurut apa Pak?

Informan         : Nah, jadi kendaraan kelas 2 itu ada pada buku KIR. Buku KIR itu yang memberikan DLLAJR (sebelumnya bernama LLJ).

Pewawancara  : Kayak izin jalan itu Pak?

Informan         : Izin muat….. Untuk menentukan berat muatannya itu. Jadi maka dari itu untuk DLLAJR itu kaitannya dengan lalu lintas mempunyai peran 1. Memberikan KIR. 2. Memberikan trayek. Trayek itu terhadap kendaraan umum. Kendaraan umum itu kan umpamanya jalan dari Lasem, Pati e…. Lasem, Rembang, Pati sampai Semarang itu ini merupakan trayek. Trayeknya itu yang memberikan DLLAJR itu di situ ada yang namanya buku trayek. Nah maka dari itu kendaraan umum dilengkapi dengan buku trayek, buku KIR, STNK jelas, SIM jelas. Lha buku KIR itu bisa menentukan oh kendaraan ini kelas 2 muatannya hanya sekian itu di dicantumkan dalam situ. Nah suatu contoh suatu contoh itu kendaraan yang gandeng-gandeng trailer-trailer itu kelas 2 berarti bisa masuk di jalan kelas 2 itu. Tetapi kalau itu ke arah Blora Cepu itu harus minta dispensasi dari DLLAJR soalnya disana kelasnya kelas 3. Begitu juga kendaraan-kendaraan yang colt diesel itu kendaraan kelas 3. Apabila muatannya itu muatannya itu lewat jalan antar kecamatan tadi harus minta dispensasi dari DLLAJR karena jalan itu jalan kelas 4. Jadi, jalur kelas 2 jalan kelas 2 hanya untuk kendaraan kelas 2, dan kelas 3 hanya untuk kelas 3 dan kelas 4, jalan kelas 4 hanya untuk kelas 4. Nah itu…

Pewawancara  : Nah untuk sepeda, belum kendaraan bermotor itu Pak apa ada juga surat izin untuk jalannya kayak gitu Pak?

Informan         : Kalau sepeda dulu selain diwajibkan untuk memasang lampu itu dulu ada “peneng” Mbak.

Pewawancara  : “Peneng” itu apa Pak?????

Informan         : “Peneng” itu merupakan suatu bentuk nomor itu ya tapi yang memberikan itu pihak kecamatan. Itu kalau kendaraan bermotor itu berupa BPKB nya. Peneng itu apa ya kepemilikan itu ya anu itu ada seng itu ada nomor-nomornya lalu ditaruh di depan itu. Dulu itu disebut “peneng”. Jadi, sepeda yang lewat di jalan umum itu wajib memasang “peneng”. “Peneng” nya itu dari kecamatan itu itu.

Pewawancara  : Berarti bukan dari pihak lalu lintasnya sendiri ya?

Informan         : Bukan bukan. Tetapi kalau yang namanya becak, dokar, cikar itu harus ada yang namanya STNK dan ada SIM. SIM kendaraan yang tidak bermotor seperti becak, cikar tadi yang memberikan adalah lalu lintas tapi sarananya itu dari kabupaten. Suatu contoh blanko STNK nya, blanko SIM nya itu dari kabupaten. Bappeda adalah alat administrasinya, kalau dari lalu lintas adalah alat hukumnya ya Mbak ya jadi, saya itu dulu tiap bulan atau 2 bulan mengumpulkan becak, dokar untuk dibina, tata cara berjalan, sopan santun berlalu lintas, bagitu Mbak, lalu setelahnya itu sampai diberi tahu tata cara pakaian.

Pewawancara  : Pakaian juga diatur ya Pak? (heran)

Informan         : Iya dulu seperti itu, soalnya memgurusi kendaraan kan belum begitu ramai seperti sekarang. Ehehehehehehe (tertawa) sekarang sudah ndak kepikir hal seperti itu. Mau pakai kaos oblong atau ndak pakai baju ya ndak ada polisi yang menangkap.

Wawancara 2

Identitas informan

Nama               : Mbah Samian

Umur               : ± 70 tahun

Pekerjaan       : Pensiunan Polisi Lalu Lintas

Alamat            : Desa Gegunung Kulon, Kec. Rembang Kab. Rembang

No. Telp          : –

Identitas pewawancara

Nama               : Rizka Putri Wijaya

Umur               : 21 tahun

Pekerjaan       : Mahasiswi

Alamat             : Desa Pantiharjo RT. 1 RW. 1 Kec. Kaliori Kab. Rembang 59252

No. Telp          : –

  • Tempat wawancara     : Kediaman (rumah) Mbah Samian
  • Waktu wawancara      : Sabtu, 3 Desember 2011 pukul 16.00 – selesai

Pewawancara  : Kita melanjutkan wawancara yang kemaren ya Pak

Informan         : Iya Mbak

Pewawancara  : Kemaren mengenai tentang atura memakai pakaian saat berkendara. Ternyata hal seperti itu juga diatur ya Pak….

Informan         : Iya Mbak, saya itu selama 27 tahun saya itu memegang bidang pendidikan dan pengayaan. Iya, sehingga sampai cara polisi berdiri di jalan itu juga diatur. Sampai sering rapat di kabupaten bertemu dengan Pak Dadi, Pak Dadi kepala PUK, Pak Slamet ketua Bappeda, lalu sepeda ini (menunjuk sepeda di belakang saya) pemberian bupati lho Mbak.

Pewawancara  : Kenang-kenangan ya Pak ya…

Informan         : Iya iya…. Begitu juga sarana jalan. Adanya rambu-rambu, rambu-rambu itu utamanya yang membikin DLLAJR sekarang perhubungan. Tetapi rambu-rambu itu kalau akan dibentuk dan dipasang itu koordinasi antara DLLAJR, lalu lintas, dan dengan PUK. PUK bertugas menentukan jalan atau rambu-rambu tersebut ditempatkan dimana saja. Lha ketiganya itu musyawarah “oh tempat ini diberi larangan apa? Diberi apa, apa dan apa…” itu. Lalu pengesahan rambu-rambu itu DPR. Tapi sekarang DLLAJR buat langsung ditaruh taruh gitu. Padahal dulu ndak. Setelahnya ketiga macamnya ini polisi dari pihak hukumnya memastikan ditegakkan hukumnya jangan sampai dilanggar, lalu mengadakan barangnya itu DLLAJR, lalu penempatan yang kira-kira tepat itu adalah PUK. Tapi, tidak sendiri. Ya musyawarah tadi. Setelah itu disyahkan oleh DPR. Ya rambu-rambu dulu masih sedikit, tidak seperti sekarang.

Pewawancara  : Sekarang kendaraan ramai sekali ya Pak

Informan         : Apalagi yang namanya traffic lights itu ya… Baru sekitar tahun ‘90an… ’95 kayaknya. Saya pensiun itu daerah perempatan Pentungan itu belum ada. Sebelum saya pensiun itu baru ada traffic lights di depan Taman Kartini itu.

Pewawancara  : Kan namanya ada kendaraan pasti ada bahan bakar ya Pak… Nah, pom bensin pertama di daerah Rembang itu ada di daerah mana Pak?

Informan         : Pom bensin itu, di waktu itu… satu di Juwana, di Ngerang itu (menunjuk arah Barat)

Pewawancara  : Ya…. kemudian…

Informan         : Yang sekarang masih ada, he e… Yang kedua ada di Bulu

Pewawancara  : Bulu????

Informan         : Sekitar tahun ‘70an ya baru di Rembang ada, yang di Taman Kartini.

Pewawancara  : Oh yang di Taman Kartini itu…. (mengangguk-angguk)

Informan         : Ya… dibuat sekitar tahun ‘70an lah. Tapi yang dulu itu pom bensin itu satu di Ngerang Juwana itu, yang keduan di Bulu, Bulu Bancar itu. (sambil tertawa)

Pewawancara  : Sementara ini dulu Pak, nanti kalau sudah saya transkrip dan saya serahkan dosennya ternyata ada data yang belum ada, saya kesini lagi.

Informan         : Ya ya ya… nanti kalau kurang apa kesini lagi ya ndak apa apa.

Pewawancara  : Ndak apa apa ya Pak ya….

Informan         : Ndak usah dengan ibu, sewaktu-waktu datang kesini (menunjuk ke arah ibu saya)

Pewawancara  : (tertawa malu) Makasih ya Pak….

Wawancara Sejarah Lisan Daerah Pantura 1966-1990

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s